MY DREAMS!!!

BISMILLAH !!!!

PENDIDIKAN DOKTER 2009

THE BEST TEAM!!! GOOD JOB GOOD JOB!!!!

LAKESMA 2011-2012

ONE TEAM ONE FAMILY !!!!

TED-LAKESMA IN ACTION!!!

TEAM OF EMERGENCY AND DISASTER BRAWIJAYA UNIVERSITY : BROMO ERUPTION

Defry and Benny

Bismillah ! adik dan kakak yang slalu kompak!

Sabtu, 18 April 2026

Atur Pola Makan, Cegah Stroke: Apa Kata Pedoman Ilmiah Terbaru?

Pencegahan Stroke · Nutrisi

Atur Pola Makan, Cegah Stroke: Apa Kata Pedoman Ilmiah Terbaru?

Panduan berbasis bukti dari American Heart Association untuk melindungi otak Anda melalui pilihan makanan sehari-hari

📅 April 2026|⏱ 8 menit baca|🔬 Berbasis Pedoman AHA/ASA 2024

Stroke adalah kondisi darurat medis yang bisa terjadi secara tiba-tiba — dan sayangnya, banyak orang tidak menyadari bahwa hingga 80% kasus stroke sebenarnya dapat dicegah. Salah satu kunci pencegahan paling fundamental, sekaligus paling terjangkau, ada di piring makan kita setiap hari.

Apa Itu Pencegahan Stroke Primer?

Pencegahan stroke primer berarti upaya mengurangi risiko stroke pada seseorang yang belum pernah mengalami stroke sebelumnya. Berbeda dengan pencegahan sekunder (mencegah stroke berulang), fokus di sini adalah membangun kebiasaan sehat sejak dini — sebelum kerusakan terjadi.

Pedoman AHA/ASA 2024 mengadopsi kerangka Life's Essential 8, yang mencakup delapan pilar kesehatan jantung dan otak: pola makan sehat, aktivitas fisik, berat badan ideal, tidur berkualitas, tidak merokok, kadar gula darah normal, kolesterol sehat, dan tekanan darah terkontrol. Dari kedepalannya, pola makan adalah fondasi yang memengaruhi hampir seluruh pilar lainnya.

~35%
Penurunan risiko stroke yang dapat dicapai dengan menjalani diet Mediterania, berdasarkan meta-analisis uji klinis acak (RCT) pada individu dengan risiko kardiovaskular menengah hingga tinggi.Sumber: Bushnell et al., Stroke, 2024 (AHA/ASA Guideline)

Rekomendasi Utama: Diet Mediterania sebagai Pilihan Terdepan

Dari seluruh pola makan yang dievaluasi, diet Mediterania mendapatkan rekomendasi tertinggi dalam pedoman AHA 2024 dengan tingkat bukti Kelas I, Bukti B-R (Rekomendasi Kuat, berdasarkan Uji Klinis Acak). Ini berarti: untuk orang dewasa tanpa riwayat penyakit kardiovaskular yang memiliki risiko menengah hingga tinggi, menjalani pola makan Mediterania direkomendasikan untuk mengurangi risiko stroke.

📋 Rekomendasi AHA 2024 — Kelas I

"Diet Mediterania direkomendasikan untuk orang dewasa tanpa riwayat penyakit kardiovaskular dan yang memiliki risiko CVD menengah hingga tinggi, untuk mengurangi risiko stroke."
— 2024 AHA/ASA Primary Prevention of Stroke Guideline

Apa Itu Diet Mediterania?

Diet Mediterania bukan sekadar "makanan Italia" atau "makan banyak zaitun." Ini adalah pola makan menyeluruh yang berakar dari tradisi makan masyarakat di sekitar Laut Mediterania, yang telah terbukti melalui banyak penelitian berskala besar.

🫒

Minyak Zaitun Extra Virgin

Sumber lemak sehat utama, kaya antioksidan polifenol, menggantikan mentega dan minyak olahan.

🥦

Sayuran & Buah-buahan

Dikonsumsi dalam jumlah besar dan beragam setiap hari. Sumber serat, kalium, dan antioksidan.

🌾

Biji-bijian Utuh

Gandum utuh, oat, barley — bukan tepung putih olahan. Menjaga gula darah dan mendukung kesehatan pembuluh darah.

🐟

Ikan Berlemak

Salmon, sarden, makarel — dikonsumsi minimal 2x seminggu. Kaya omega-3 untuk kesehatan jantung.

🫘

Kacang-kacangan & Legum

Lentil, kacang merah, chickpea — protein nabati utama sebagai pengganti daging merah.

🥜

Kacang Pohon & Biji

Almond, kenari, biji wijen — lemak tak jenuh, serat, dan mineral yang mendukung profil lipid.

Bukti ilmiah terkuat datang dari studi PREDIMED (Prevención con Dieta Mediterránea), sebuah uji klinis acak multisenter berskala besar yang melibatkan 7.447 peserta di Spanyol. Studi ini menemukan bahwa diet Mediterania yang dilengkapi minyak zaitun extra virgin atau kacang campuran secara signifikan menurunkan risiko stroke dengan hazard ratio 0,58 (95% CI: 0,42–0,82) — artinya risiko stroke turun hampir 40% dibanding kelompok kontrol. Menariknya, manfaat terhadap stroke lebih kuat dibandingkan manfaatnya terhadap serangan jantung atau kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Bagaimana dengan Diet DASH?

Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) juga banyak disebut sebagai diet pencegah stroke. Namun dalam pembaruan pedoman 2024 ini, rekomendasi eksplisit untuk DASH tidak diulang kembali — bukan karena tidak bermanfaat, melainkan karena kurangnya uji klinis acak yang secara langsung mengukur angka kejadian stroke sebagai luaran utama.

Meski begitu, data observasional tetap mendukung manfaatnya: setiap kenaikan 4 poin dalam skor kepatuhan diet DASH dikaitkan dengan penurunan risiko stroke relatif sekitar 4%. Baik diet Mediterania maupun DASH berbagi prinsip inti yang sama: menekankan biji-bijian utuh, buah, dan sayuran.

AspekDiet MediteraniaDiet DASH
LemakTinggi lemak tak jenuh tunggal (minyak zaitun) & tak jenuh ganda (ikan, kenari)Rendah lemak total, termasuk lemak tak jenuh
ProteinIkan dan unggas dominan, susu fermentasi (keju, yogurt) secukupnyaAyam, ikan, kacang-kacangan; susu rendah lemak
SodiumTidak membatasi secara eksplisit, namun rendah secara alamiPembatasan sodium eksplisit (<2.300 mg/hari)
Rekomendasi AHA 2024✓ Kelas I — Rekomendasi KuatTidak disebutkan secara eksplisit (bukti RCT belum cukup untuk luaran stroke)
Bukti untuk StrokeKuat — didukung RCT (PREDIMED)Sedang — didukung studi observasional

Peran Garam: Bukan Sekadar "Kurangi Garam"

Pedoman AHA 2024 memperkenalkan rekomendasi yang relatif baru dan spesifik terkait substitusi garam sebagai strategi pencegahan stroke. Rekomendasi ini mendapat tingkat bukti Kelas IIa (Rekomendasi Sedang, berdasarkan RCT).

🧂 Rekomendasi Substitusi Garam — Kelas IIa

Pada orang dewasa usia ≥60 tahun dengan tekanan darah yang tidak terkontrol (sistolik ≥140 mmHg bila sudah minum obat, atau ≥160 mmHg bila belum), mengganti garam dapur biasa dengan campuran 75% natrium klorida + 25% kalium klorida adalah strategi yang layak dipertimbangkan untuk mengurangi risiko stroke.

Strategi ini berbeda dari sekadar "makan lebih sedikit garam." Substitusi garam dengan kalium klorida telah terbukti menurunkan tekanan darah dan risiko stroke secara bermakna, terutama pada populasi lanjut usia dengan hipertensi tidak terkontrol. Garam kalium ini sudah tersedia di beberapa toko bahan makanan kesehatan sebagai alternatif garam biasa.

Suplemen Vitamin: Mana yang Terbukti, Mana yang Tidak?

Banyak orang mengonsumsi berbagai suplemen dengan harapan melindungi kesehatan jantung dan otak. Pedoman AHA 2024 memberikan pernyataan yang tegas dan berbasis bukti mengenai hal ini.

🚫 Tidak Terbukti Efektif untuk Pencegahan Stroke (Kelas III — No Benefit)

Suplemen berikut tidak efektif untuk menurunkan risiko stroke pada orang dewasa tanpa riwayat penyakit kardiovaskular: Vitamin C, Vitamin E, Selenium, Antioksidan, Kalsium, Kalsium + Vitamin D, Multivitamin, serta Asam Lemak Rantai Panjang (Omega-3 suplemen).

⚠️ Belum Terbukti Jelas (Kelas IIb)

Suplemen asam folat dan vitamin B-kompleks (asam folat, B12, B6) masih belum dapat dipastikan manfaatnya untuk pencegahan stroke. Bukti yang ada belum cukup untuk rekomendasi positif maupun negatif yang definitif.

Pesan utamanya adalah: suplemen bukan pengganti pola makan sehat. Nutrisi yang berasal dari makanan utuh (whole foods) memiliki sinergi biologis yang tidak dapat direplikasi oleh pil suplemen. Fokus pada makanan, bukan kapsul.

Makanan yang Perlu Dibatasi

Daging Merah dan Daging Olahan

Konsumsi harian daging merah segar dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke iskemik, dengan risiko relatif sekitar 1,11 per satu porsi tambahan per hari. Untuk daging olahan (sosis, bacon, ham), asosiasi ini bahkan lebih kuat, terutama akibat kandungan sodium dan lemak jenuhnya yang tinggi. Dalam konteks diet Mediterania, unggas (ayam, ikan) jauh lebih diutamakan dibandingkan daging merah.

Minuman Berpemanis Tinggi

Konsumsi gula berlebih meningkatkan risiko diabetes tipe 2, obesitas, dan tekanan darah tinggi — semuanya merupakan faktor risiko stroke yang signifikan. Pedoman ini secara implisit mendukung pengurangan asupan gula tambahan sebagai bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan.

"Diet Mediterania bukan tentang makanan tunggal ajaib — ini tentang pola makan keseluruhan yang bekerja secara sinergis untuk melindungi pembuluh darah dan otak Anda."

Adaptasi untuk Masyarakat Indonesia

Diet Mediterania mungkin terdengar asing bagi lidah Indonesia, namun prinsip-prinsipnya dapat diadaptasi dengan bahan lokal yang mudah dijangkau:

🐟

Ikan Lokal Segar

Ikan bandeng, ikan kembung, teri, dan tuna adalah sumber omega-3 yang terjangkau dan mudah ditemukan.

🥬

Sayuran Hijau Tropis

Bayam, kangkung, daun singkong, brokoli — kaya folat, kalium, dan antioksidan. Konsumsi beragam setiap hari.

🫘

Tempe & Tahu

Sumber protein nabati terbaik. Tempe fermentasi juga mengandung probiotik alami yang mendukung kesehatan pembuluh darah.

🌰

Kacang-kacangan Lokal

Kacang tanah, kacang mete, dan almond mengandung lemak sehat. Konsumsi tanpa garam tambahan.

🍚

Nasi Merah / Beras Merah

Alternatif nasi putih yang lebih kaya serat dan indeks glikemik lebih rendah untuk menjaga gula darah.

🫒

Minyak Zaitun / Minyak Kelapa

Gunakan minyak berkualitas. Minyak zaitun extra virgin adalah pilihan utama untuk masak suhu rendah dan salad.

Ringkasan: Panduan Praktis Pola Makan Pencegah Stroke

✅ Yang Perlu Ditingkatkan

Perbanyak: sayuran dan buah beragam setiap hari · ikan minimal 2–3x seminggu · biji-bijian utuh (nasi merah, oat, gandum) · kacang-kacangan dan legum · minyak zaitun atau minyak nabati sehat sebagai sumber lemak utama · air putih sebagai minuman utama.

🚫 Yang Perlu Dibatasi

Kurangi: daging merah dan daging olahan (sosis, nugget, bakso kemasan) · makanan dan minuman tinggi gula tambahan · makanan ultra-proses dan fast food · garam berlebih (idealnya <2.300 mg sodium/hari) · lemak jenuh tinggi (santan berlebih, gorengan rutin).

Perubahan pola makan tidak perlu dilakukan sekaligus dan sempurna. Mulai dari satu perubahan kecil yang konsisten: menambah satu porsi sayuran per hari, mengganti cemilan gorengan dengan kacang-kacangan, atau mengubah nasi putih menjadi nasi merah tiga kali seminggu — semuanya bermakna dalam jangka panjang.

⚕️ Catatan Penting: Artikel ini disusun berdasarkan pedoman klinis AHA/ASA 2024 untuk tujuan edukasi kesehatan publik. Konten ini bukan pengganti konsultasi medis profesional. Bila Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu (diabetes, hipertensi, penyakit ginjal, dll.), selalu konsultasikan perubahan pola makan dengan dokter atau ahli gizi Anda.

Daftar Pustaka

  1. Bushnell C, Sharrief A, Bhatt DL, et al. 2024 Guideline for the Primary Prevention of Stroke: A Guideline from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke. 2024;55(12):e344–e424. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000475
  2. Estruch R, Ros E, Salas-Salvadó J, et al; PREDIMED Study Investigators. Primary Prevention of Cardiovascular Disease with a Mediterranean Diet Supplemented with Extra-Virgin Olive Oil or Nuts. N Engl J Med. 2018;378(25):e34. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1800389
  3. Amiri M, Hajhashemy Z, Saneei P. Diet and Stroke: Recent Evidence Supporting a Mediterranean Style Diet and Food in the Primary Prevention of Stroke. Front Nutr. 2020. PMC4479964
  4. Bhatt DL, Lincoff AM, Kastelein JJP, et al. Future of Stroke Prevention: 7 Updates in the 2024 AHA/ASA Primary Prevention of Stroke Guideline. JACC: Advances. 2025. https://doi.org/10.1016/j.jacadv.2025.101724
  5. American Heart Association. New Guideline: Preventing a First Stroke May Be Possible with Screening, Lifestyle Changes. AHA Newsroom. October 21, 2024. newsroom.heart.org


Senin, 08 Januari 2018

RESENSI FILM : CODE BLUE SEASON 3


Setelah lama tidak ada kabar, akhirnya code blue season 3 muncul. Pada season kali ini, code menampilkan cerita baru dimana setelah kepindahan  Kousaku Aizawa (Tomohisa Yamashita) ke departemen bedah saraf dan  Mihoko Hiyama (Erika Toda) yang sedang studi fetomaternal di rumah sakit lain,  Megumi Shiraishi (Yui Aragaki) mengalami kesulitan dalam mengatur kepadatan departemen emergensi. Walaupun ada tiga dokter fellowship, Shiraishi, Kazuo Fuikawa (Yosuke Asari), Haruka Saejima (Manami Higa)  beserta tim lainnya  banyak mengalami kegagalan dalam menyelamatkan pasien.

Pada season kali ini, ke lima tokoh utama code blue pada season sebelumnya, akhirnya bertemu sebagai sebuah tim kembali. Mereka dihadapkan dengan berbagai masalah mulai dari mendidik fellowship, konflik kepentingan untuk karir selanjutnya, dan tidak kalah serunya kasus-kasus yang unik dan seru. Jadi jangan lewatkan melihat film ini, kalian pasti akan mendapatkan pandangan baru dari dunia medis dan juga ilmu kedokteran. link download dapat di klik disini.

Sabtu, 15 Februari 2014

LYMPHATIC MALFORMATION / MALFORMASI LIMFATIK


Lesi vaskuler pada kulit dapat dibagi menjadi lesi yang didapat (Acquired vascular lesions) dan lesi kongenital (Congenital vascular lesions) atau Vascular Malformations (VMs). Vascular Malformation (VMs) adalah lesi vaskuler kongenital karena kelainan pembentukan vaskuler saat perkembangan embrio. VMs tidak berkembang namun dilatasi dari vaskuler tersebut secara bertahap terus membesar. Klasifikasi VMs berdasarkan dari tipe vaskuler adalah slow-flow lessions (kapiler, vena, limfatik), high-flow lessions (arteri) dan kombinasi dari slow/fast-flow lessions. Berdasarkan ukuran lumen limfatik, lesi dibagi menjadi microcystic lesions (lymphangiomas), macrocystic lesions (cystic hygromas) dan bentukan kombinasi (Medscape, 2010).

Lymphatic Malformation (LM) dulunya disebut sebagai lymphangioma merupakan malformasi vaskuler yang sering terjadi karena adanya gangguan pada perkembangan sistem duktus limfatikus. Patofisiologi dari pembentukan Lymphatic Malformation itu sendiri sampai sekarang masih sulit dimengerti sehingga belum ditemukan cara untuk mencegah pembentukannya. Lesi dari Lymphatic Malformation diklasifikasikan menjadi macrocystic (> 1 cm), microcystic (< 1 cm) atau gabungan dari keduanya. Lymphatic Malformation terbentuk dari bentukan cystic dan solid matrix element (fibrous tissue, smooth muscle dan microscopic cystic space). Pada lesi macrocystic lebih dominan bentukan cystic daripada solid matrix element, lesi ini biasa disebut dengan “Cistyc hygroma”. Sedangkan untuk lesi microcystic didapatkan multiple infiltrat pada soft tissue (kulit). Jenis lesi tersebut dapat mempengaruhi  tindakan pengobatan yang akan dilakukan, apakah akan dilakukan surgical resection atau nonsurgical ablation techniques (William, 2012).

Management dan Terapi Malformasi Limfatik
Management dan terapi malformasi limfatik terdiri dari management medis dan  managament bedah
1.      Management medis
  •  Local pressure
      Stocking elastis dapat membantu mengurangi bengkak yang berhubungan dengan malformasi limfatik di ekstrimitas (Cohen et al, 2013).
  •  Antibiotik
      Infeksi virus bakteri bisa menyebabkan infeksi akut malformasi limfatik. Infeksi ini berhubungan dengan pembengkakan akut, nyeri, tenderness, kemerahan, dan demam sistemik. Pada keadaan ini diperlukan antibiotik IV dan NSAID (Cohen et al, 2013).
  •   Skleroterapi
      Injeksi sklerosan transkutan seperti alkohol atau sodium tetradecyl sulphate (STS) dapat membantu menurunkan malformasi limfatik. Injeksi ini sering digunakan untuk malformasi makrositik dan kombinasi lesi venous-lymphatic. Prosedurnya menyakitkan, sehingga harus dilakukan dengan general anasthesia (Cohen et al, 2013).Untuk lesi kistik yang besar dengan lokasi yang sulit untuk dilakukan interberensi pembedahan, dilakukan injeksi OK-432. OK-432 merupakan antibodi monoklonal yang diprosuksi dari inkubasi dan interaksi Streptococcus pyogenes dengan penicilin (Cohen et al, 2013). Terapi ini masih dalam penelitian namun pada beberapa kasus yang sulit terapi ini terbukti berhasil (Mulholland et al, 2010). Selain dengan substrat diatas. Skleroterapi juga dapat dilakukan dengan laser. Keuntungan penggunaan skleroterapi laser adalah hasil yang lebih baik dan lebih cepat dalam tatalaksananya (Fabulousleg, 2014).

2.      Management bedah
      Eksisi bedah total adalah terapi yang optimal terhadap malformasi limfatik, namun dalam proses pembedahan tersebut perlu mempertimbangkan:
o   Kontrol perdarahan intra operatif dan post operatif
o   Resiko terhadap organ lain yang berdekatan(Cohen et al, 2013).
Malformasi limfatik Macrocystic dan microcystic dari orbita pada gadis 6 tahun .Foto klinis dari seorang gadis 6 tahun (A) menunjukkan proptosis berat dan ecchymosis karena LM intraorbital yang besar. Gambar T2 coronal (B) orbital campuran makro dan microcystic LM kiri (panah) membungkus saraf optik (panah). Koronal T2 gambar (C) mendefinisikan elemen microcystic dari LM (panah). Kontras cystogram gambar (D) menunjukkan drainase kateter 5F dengan kontras untuk drainase dan ablasi elemen macrocystic (panah). Gambaran selama pengobatan AS mengarah pada microcyst (E) dengan jarum 25G (panah) paling kiri dari 2 microcyst, mengandung busa doksisiklin echogenic (panah melengkung). Panah lurus menunjukkan microcyst berdekatan yang akan diperlakukan berikutnya dengan busa doxycycline echogenic. Foto klinis 10 bulan setelah pengobatan (F) menunjukkan resolusi proptosis dan peningkatan ketajaman visual untuk 20/100 . Gambar dicetak ulang dengan izin Pediatric Arah 2011; Vol . 38 , NCH

RESENSI FILM: CODE BLUE SEASON 1


"If it can be treated one second earlier, the heart might start beating again.
If there is one extra helicopter, another life in danger may be saved.
There are more lives in this country that can be saved."


      Beberapa kalimat diatas  merupakan gambaran  dari apa yang akan diceritakan pada film ini. Film ini bercerita tentang  program yang dinamakan “Doctor Helicopter”  yang  diresmikan jepang pada tahun  2007.  Tim medis akan diterjunkan langsung ke tempat kejadian untuk dapat menangani masalah pasien secepatnya baik pada tahap triase maupun pada penatalaksanaan lapangan. 

     Pada film ini diceritakan terdapat empat orang dokter baru yang akan mengikuti pelatihan pada program ini. keempat orang tersebut terdiri dari dua orang perempuan dan dua laki-laki. Keempatnya bersaing untuk mendapatkan posisi sebagai dokter pilihan sang supervisor dalam melaksanakan misi-misi doctor helicopter. Situasi persaingan ini membuat drama ini seru selain kasus- kasus yang menarik. Beberapa kasus berceritakan tentang trauma tunggal dan beberapa kasus lainnya tentang bencana dengan korban yang cukup banyak. Dari film ini kita dapat menggali berbagai hal terkait triase, penangan awal, penangan lanjutan, dan sisi humanitas terkait penangan pasien dan profesi dokter.
        Nah, jika tertarik, silahkan download gratis code blue season 1 pada link di blog ini.

Sabtu, 15 Juni 2013

DNA Ploidy by Flow Cytometry !!!

       Penghitungan konten DNA dengan flowsitometri tersedia untuk memberikan estimasi jumlah sel pada fase siklus sel tertentu (G0/1, S, atau G2M) dan DNA ploidy. Pada sebagian besar kasus DNA ploidy dianalisa pada jaringan darah atau pada tumor padat. Bukti adanya aneuploidi merupakan tanda definitif dari adanya tumor. Selain sebagai diagnosis, adanya aneuploidi juga merupakan parameter yang dilihat untuk memprediksi suatu prognosis dan hasil dari suatu terapi.
      Untuk memeriksa ploidi DNA dari suatu sampel tumor, hal yang harus dilakukan adalah membandingkan antara konten DNA dari populasi sel G0/G1 dari sel tumor dengan sel kontrol normal. Pada sel normal nilai puncak dari intensitas floresens dinyatakan dalam indeks DNA dengan nilai 1 (DI=1). Pada sel tumor DI dinyatakan sebagai rasio perbandingan antara nilai puncak floresens sel tumor dengan sel normal pada Go/1 seperti yang dinyatakan diatas. Terdapat juga analisa DI yang lazim dilakukan dengan membandingkan nilai modus intensitas foresen dibanfing menggunakan nilai puncaknya. Banyak autor lain masih cenderung menggunakan nilai rata-rata dari intensitas floresens populasi G0/1 daripada dengan menggunakan modus untuk mendapatkan rasio DI. Dari beberapa pendapat tersebut, pada intinya ketika pengukuran DNA dilakukan secara tepat, beberapa cara pendekatan di atas juga akan menunjukkan estimasi nilai DI yang sama dari sel aneuploidi. Sebagai sel kontrol biasanya digunakan limfosir dari pasien yang sama sebagai kontrol standar eksternal dari DI=1.
            Untuk meningkatkan nilai identifikasi DI, dibutuhkan pengunaan sel normal baik sebagai standar kontrol internal maupun eksternal. Ketika digunakan sebagai kontrol eksternal, sel tersebut ditujukan untuk menentukan prosedur pewarnaan dan pemrosesan serta penghitungan pada detektor laser yang identik dengan sampel tumor. Sel kontrol eksternal limfosit   sebaiknya dihitung baik sebelum dan sesudah penghitungan sampel tumor. Penghitungan ganda ini ditujukan untuk memungkinkan mendeteksi adanya kemungkinan perubahan pada pembacaan floresens misalnya akibat pengaturan yang salah pada instrumen pada penghitungan yang berjalan. Selain itu, kontrol eksternal, sel normal seharusnya dicampurkan dengan proporsi 1:1 dengan sampel sel tumor dan dapat digunakan sebagai kontrol internal pada paket penghitungan lain.
            Selain dapat diambil dari sel lain diluar jaringan tumor, kontrol internal juga dapat diambil pada jaringan tumor karena adanya sel stromal atau sel infiltrat yang normal  yang juga dapat digunakan sebagai kontrol internal dari ploidi DNA. Secara fakta, ketika ploidi DNA dianalisa pada penghitungan nukleus di jaringan yang telah diparafinisasi, kontrol internal dari adanya sel stromal atau sel infiltrat  normal merupakan satu-satunya cara dalam menganalisa ploidi DNA dari sel tumor. Hal ini dapat disebabkan karena kemampuan pewarnaan DNA setelah fiksasi dengan formaldehid dan parafinisasi mengalami perubahan sehingga penggunaanya sebagai standar eksternal tidak bisa bermanfaat lagi.

            Contoh dari penggunaan kontrol eksternal dan internal dapat ditemukan pada penggunaan eritrosit ayam dan limfosit. Sel eritrosit  ayam yang segar ataupun yang telah terfiksasi dapat digunakan sebagai kontrol internal. Sedangkan sel limfosit sebagai kontrol eksternal. Keduanya digunakan utnuk mengetahui konsistensi dari metode pengukuran seperti telihat pada gambar 1 dan 2 di bawah.
 GAMBAR 1.  Blood lymphocytes (blue) used as external control for DNA ploidy analysis by flow cytometry. DNA ploidy of liver biopsy from HCC patient (red).

GAMBAR 2. Chicken red blood cells can be used as internal control during

DNA ploidy analysis by flowcytoemtry.

Source:

Sa Wang et al. 2004. Detection of Aneuploid Neoplastic T Cells in the Blood Is Associated With Large Cell Transformation in Tissue. Am J Clin Pathol 2004;122:774-782.

Zbigniew Darzynkiewicz dan Gloria Juan.1997. DNA Content Measurement for DNA Ploidy. and Cell Cycle Analysis. Current Protocols in Cytometry (1997) 7.5.1-7.5.24.


--- TERIMAKASIH, SEMOGA BERMANFAAT ---