MY DREAMS!!!

BISMILLAH !!!!

PENDIDIKAN DOKTER 2009

THE BEST TEAM!!! GOOD JOB GOOD JOB!!!!

LAKESMA 2011-2012

ONE TEAM ONE FAMILY !!!!

TED-LAKESMA IN ACTION!!!

TEAM OF EMERGENCY AND DISASTER BRAWIJAYA UNIVERSITY : BROMO ERUPTION

Defry and Benny

Bismillah ! adik dan kakak yang slalu kompak!

Tampilkan postingan dengan label RESPIRATORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESPIRATORY. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Maret 2013

Bagaimana Hubungan Dyspneu & Edema dengan Gejala pada Pasien yang Mengalami Gangguan pada Sistem Kardiovaskuler ???


Dyspnea (breathlessness) dan edema sebenarnya tidak berhubungan secara langsung dan secara bersamaan pada setiap kasusnya. Namun kedua gejala ini sering terlihat bersama pada pasien dengan gangguan kardiovaskuler. Berlebihnya cairan pada jaringan akibat kegagalan fungsi jantung mengakibatkan tumpukan cairan ini terakumulasi pada beberapa lokasi tergantung pada gaya gravitasi yang bekerja. Pada seseorang yang berdiri, edema akan terjadi pada area pergelangan kaki. Jika pada posisi duduk di kasur, bengkak akan terjadi pada daerah sacrum atau tulang ekor. Dan jika pasien tidur terlentang, cairan akan terkumpul di paru -paru atau dinamakan edema pulmonal yang dapat menyebabkan susah bernafas. Nah bagaimana kita bisa mengetahui adakah hubungan dyspneu dan edema dengan kegagalan jantung akan kita bahas lebih lanjut pada poin - poin di bawah ini.

A. Dyspnea (breathlessness)
    Pada pasien dengan gangguan jantung, beberapa hal tentang dyspneu yang penting kita untuk mempermudah dalam penetalaksanaan selanjutnya. Sebisa mungkin gejala pasien dapat dikuantifikasikan untuk mengetahui seberapa parah penyakit pasien dan bagaimana kita mengetahui bahwa terapi kita berhasil saat melakukan monitoring progresi dari penyakit.
 The NewYork Heart Association (NYHA)  telah mengklasifikasikan dyspneu berdasarkan data yang didapat dari beberapa pertanyaan berikut:
  • Seberapa jauhkah pasien dapat berjalan hingga dia tidak sanggup  berjalan dan berhenti (“march tolerance”) ???
  • Bagaimana ketika dia kesulitan ketika menaiki tangga atau bukit ?
  • Apakah ketidakmampuannya atau berhentinya disebabkan kesusahan bernafas ataukah ada alasan lain seperti nyeri sendi dan lainnya??
  • Apakah pasien telah mengalami hambatan pada aktivitas normal seharianya ?
 Untuk kriteria dan kelas dari heart failure berdasarkan NHYA  adalah sebagai berikut:
  • I   (mild) : tidak ada gejala saat istirahat, muncul pada aktivitas berat
  • II  (mild) : tidak ada gejala saat istirahat, muncul pada aktivitas sedang
  • III (moderate) :  kesusahan bernafas ketika istirahat, memburuk saat beraktivitas ringan.
  • IV (Severe) : kesusahan bernafas berat saat beristirahat , dan memburuk walaupun dengan aktivitas yang sangat ringan (pasien biasanya hanya bisa beaktivitas di tempat tidur)
Sumber: The Criteria Committee of the New York Heart Association (1994).  Nomenclature and Criteria for Diagnosis of Diseases of the Heart and Great Vessels . 9th ed. Boston: Little, Brown &
Co., pp. 253-256.

B.  Orthopnea
       Orthopnea adalah suatu peresaan susah bernafas ketika berbaring secara datar ada permukaan. Pasien biasanya  tidak menganggap  hal ini sebagai sebuah gejala sehingga kita sebaiknya menanyakannya secara langsung pada pasien  dengan pertanyaan sebaga berikut:
  • Berapa bantal yang dipakai pasien ketika tidur  untuk merasa nyaman? ( biasanya pasien mendiskripsikan bahwa dia tidur pada posisi hampir seperti ketika dalam possisi duduk )
  • Jika pasien  tidur harus menggunakan beberapa bantal, tanyakan mengapa ? apakah karena kesusuahan bernafas jika tidak berbaring datar pada temapt tidur ataukah ada alasan lain yang menyebabkan hal itu? 
C. Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND)
     Berdasarkan namanya, PND  meliputi periode kesusahan bernafas yang terjadi pada malam hari  yang biasanya disebabkan oleh karena edema pulmonal. Dan gejala ini juga tidak disadari pasien dan tidak menjadi hal yang biasanya langsung dekemukakan sehingga sebaiknya kita tanyakan.
  • Apakah pasien terbangun pada malam hari karena batuk dan mencoba untuk mencari udara segar untuk dapat bernafas dengan nyaman ?
  • Jika ada, coba tanyakan dengan ebih detail, seberapa sering dan parah gejala tersebut mengganggu siklus tidur dari pasien?  
D. Batuk/ Cough
        Biasanya pada kasus edema pulmonal, pasien mengalami batuk dengan karakter berbusa (berasal dari saluran pernafasan) dan putih atau frothy white sputum. Biasanya juga ada bercak - bercak berwarna merah muda akibat ruptur dari pembuluh darah bronkial.

E. Edema pergelangan kaki
       Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pada pasien yang masih berjalan aktif, cairan akan terkumpul pada pergelangan tangan dan menyebabkan edema. Jika kita menemui orang dengan edema, pertanyaan yang sebaiknya diajukan adalah?
  • Sebarapa lama pasien telah mengalami edema tersebut?
  • Adakah waktu dimana gejala semakin parah?? (pada edema akibat kelainan kardiak, biasanya memburuk pada waktu menjelang sore dan berkurang saat malam hari akibat redistribusi cairan tersebut)
  • Seberapa luaskah pembengkakan tersebut? (apakah hanya di kaki dan pergelangan tangan  atau melebar ke  paha, lutut, ataupun sampai genitalia dan dinding perut ???(semakin besar akumulasi, semakin berat penurunan fungsi jantung)
  •  Adakah bukti adanya ascites  atau pembengkakan abdomen??

--- TERIMA KASIH, SEMOGA BERMANFAAT---

Minggu, 17 Februari 2013

Respiratory Edition: Batuk dan Ekspektorasi ???


  Batuk merupakan gejala yang biasa muncul pada gangguan sistem respirasi baik oleh karena infeksi saluran pernafasan atas, efek buruk rokok dll. Dan yang harus diperhatikan dari batuk adalah:
  • Durasi dan waktu batuk
  • Karakter batuk (proyektil atau lainya)
  • Faktor eksaserbasi
  • Adanya sputum atau ekses dari sekresi respirasi yang dikeluarkan lewat batuk            ( Seberapa sering? banyak? seberapa sulit untuk dikeluarkan? warna? konsistensi? dan bau? )
!!! Note: Batuk dapat merupakan gejala tunggal pada  childhood asthma

1. Karakter batuk
  • Batuk kronis yang lebih dari 3 minggu dapat disebabkan  asma, karsinoma, interstitial disease, bronchiectasis, gastroesophageal reflux disease, dan postnasal drip.
  • Perokok dapat mengalami batuk kronis, terutama di pagi hari, sehingga penting untuk kita mengetahui pola dari batuknya.
  • Karakter dari batuk dapat digunakan untuk mengetahui penyebabnya. Untuk mengetahui penyebab dan karakter batuk, kita dapat melihat pada tabel di bawah ini : 

 

2.  Karakter Sputum
  •  Upayakan untuk menanyakan kuantitas produksi sputum dengan istilah - istilah yang diketahui (sendok teh, gelas dll )
  • Mucoid  sputum  terlihat putih atau bening tetapi dapat berubah ke abu- abuan pada perokok 
  • Purulent sputum biasanya berwarna kuning atau hijau yang menandakan adanya infeksi walaupun pada asma juga dapat menyebabkan sputum berwarna hijau karena adanya eusiofil.
  • Sputum yang susah untuk dikeluarkan atau dilepas dapat dijumpai pada penderita asma
  • Pada bronchopulmonary aspergillosis dapat dijumpai "miniature tree-like bronchial casts"
Untuk lebih detainya dapat dilihat pada tebel di bawah ini:

3.  Hemoptysis   
    Hemoptisis adalah batuk yang disertai dengan keluarnya darah yang bervariasi dari hanya bercak atau berwarna merah cerah (pada pasien gagal jantung) sampai sangat banyak dan mengancam jiwa.
Yang harus diperhatikan pada hemoptisis adalah:
  • Jumlah
  • Warna
  • Frekuensi
  • dan karakter dari sputum yang menyertai
  • Adanya perdarahan di daerah lain selain saluran pernafasan
    Pada   hemoptysis  masif ( = >500 mL dalam 24 jam), hemoptisis dapat membingungkan dokter apakah darah ini berasal dari hidung, mulut, dan saluran pencernaan (hematemesis).
     Penyebab hemoptisis antara lain:
  • Bronkitis
  • Karsinoma
  • Emboli pulmonal
  • Infark paru
  • Tuberkulosis
  • Fibrosis kistik 
  • Abses paru  
!!!!note: Waspada pada adanya perdarahan pada beberapa daerah (kulit, GIT dll) yang dapat menandakan kelainan koagulasi yang mengancam jiwa.


--- TERIMA KASIH, SEMOGA BERMANFAAT ---

Jumat, 08 Februari 2013

Bagaimana cara suplementasi oksigen pada neonatus ??? Mau tau???

               Setelah sebelumnya di jelaskan bagaimana metode penentuan terapi oksigen pada neonatus, sekarang kita akan membahas sedikit tentang alat yang dapat digunakan untuk terapi oksigen  tersebut sebagai berikut:

1. Inkubator 
  • Menggunakan selang dengan aliran tinggi
  • Butuh waktu + 10 menit untuk stabilisasi oksigen
  • Kadar O2 turun dengan cepat bila tutupnya dibuka
  • Tidak direkomendasikan untuk di ruang bersalin
2. Head box

  • Kecepatan  Aliran 5 – 7 L /menit ( Kec. Aliran >  7 L/menit: ↑O2, berisik, bayi muntah)
  • Perlu kec. aliran tinggi untuk mencapai 
  • Aliran gas 2-3L/menit diperlukan untuk mencegah rebreathing CO2

3. Nasal kanul
  • Kec . Aliran rendah < 2L/menit ( low flow )
  • Untuk suplai O2 minimum
  • Risiko kecil terjadi obstruksi oleh mukus
  • Tidak perlu humidifikasi
  • Namun FiO2 tidak mudah ditentukan


4.CPAP (Continous Positive Airway Pressure)

Merupakan alat yang mempertahankan tekanan positif
pada jalan napas neonatus saat pernapasan spontan


Indikasi penggunaan nasal CPAP :
  1. Neonatus preterm dengan respiratory distress syndrome( RDS )
  2. neonatus dengan transient tachypnea of the newborn ( TTN )
  3. neonatus dengan meconium aspiration syndrome(MAS )
  4. neonatus preterm dengan apnea berulang dan bradikardi
  5. neonatus dengan paralisis diagfragma
  6. neonatus dalam proses transisi setelah pemakaian ventilator
  7. neonatus dengan penyakit saluran napas seperti trakeomalasia dan bronkiolitis
  8. neonatus setelah menjalani operasi abdomen atau thorak
Hal yang penting pada pemberian O2melalui CPAP :
  1. Botol tidak mengeluarkan gelembung
  2. Pemeriksaan sistem dilakukan setiap 2-4 jam
  3. Amati kembung pada perut lihat gambaran kontur usus dan auskultasi bunyi usus
  4. Ukuran prong harus tepat berada pada posisi yang benar
Kapan CPAP nasal disebut gagal :
  1. Tingkat FiO2 < 60%
  2. PaCO2 > 60 mmHg
  3. Asidosis metabolik menetap BE (base excess) >-10
  4. Retraksi yang jelas saat terapi CPAP
  5. Sering terjadi episode apnea dan atau bradikardi
Jika CPAP gagal , maka langkah selanjutnya adalah menggunakan ventilator dengan terlebih dahulu melakukan intubasi dengan ETT (Endotracheal tube).






--- Terima Kasih , Semoga Bermanfaat ---

Minggu, 27 Januari 2013

Oksigen dan Neonatus ???

       Setelah membaca judul di atas, tentu ada pertnayaan yang timbul di benak pembaca, apa sih hubungan antara neonatus dengan oksigen???. jika pembaca bingung, mari kita bahas bersama - sama.
        Neonatus adalah bayi yang baru lahir hingga mencapai minggu ke- 4 dari kelahirannya. Nah pada kondisi usia yang sedemikian rupa, bayi sangat rentan mengalami hambatan pada pernafasannya yang dimungkinkan akibat infeksi saluran nafas atau lahir prematur sehingga organ pernafasan belum matang secara sempurna sehingga butuh adanya bantuan pernafasan melalui   penggunaan alat untuk suplementasi oksigen.
Untuk tujuan dan indikasi dari terapi oksigen adalah sebagai berikut :

Tujuan:

  1. Menangani hipoksemi
  2. Mengurangi kerja otot pernapasan
  3. Menurunkan beban kerja miokardium 
Indikasi : 
  1. Distres pernapasan yang menyebabkan hipoksia
  2. Membantu resorpsi pneumotoraks pada bayi cukup bulan
  3. Serangan apnea pada bayi prematur
  4. Hyperoxic test pada tersangka penyakit sianotik
Selain indikasi yang jelas, pemberian terapi harus juga mempertimbangkan hal - hal dibawah ini:
  1. Terapi oksigen tanpa penilaian tekanan O2 arteri dan atau saturasi O2 sangat berbahaya 
  2. Pertahankan tekanan O2 arteri 40-80 mmHg dan atau tingkat SpO2 88-92% .Atur alarm pada   85-95%
  3. Perlu peningkatan aliran O2 selama bayi minum sampai 30-45 menit setelah minum
  4. Pemeriksaan AGD/BGA dan pulse oxymetry untuk mendeteksi hipoksemi
Pemantauan terapi yang adekuat diharapkan mampu menghindari sang neonatus dari dampak buruk terapi oksigen akibat peningkatan radikal bebas sebagai berikut:
  1. Mata : kerusakan retina terjadi karena PaO2yang tinggi sehingga terjadi spasme pembuluh darah ROP ( Retinopathy of Prematurity )
  2. Paru: oksigen bersifat toksik terhadapalveoli jika FiO2> 60% Chronic Lung Disease ( CLD )
  3. Otak : aliran darah otak berkurang dengan PaO2yang tinggi dan PaCO2 yang rendah periventricular leukomalacia
        Ingat !!!! Antibodi terhadap radikal bebas baru berkembang saat trimester ke-3  kehamilan. Bayi yang sangat prematur berisiko tinggi terhadap paparan oksigen.

      Dan setelah kita tahu indikasi dan bahaya terapi oksigen, pertanyaan yang berikutnya muncul adalah, bagaimana metode pemberian oksigen dan bagaimana cara memilih salah satu metode - metode tersebut? 
Untuk cara pemberian oksigen bermacam- macam seperti dibawah ini:
  1. Melalui inkubator
  2. Head box
  3. Nasal kanul ( low flow atau high flow)
  4. Nasal CPAP (continuous positive airway pressure)
  5. Nasal Intermittent Positive Pressure Ventilation (NIPPV)
  6. Ventilator (dengan memasukkan endotracheal tube)
Untuk memilih apa yang seharusnya dipakai, kita dapat menggunakan down score  seperti gambar di bawah:

Untuk intrepretasinya adalah sebagai berikut:
  1. Skor < 4    (Distres pernapasan ringan)  
  2. Skor 4 – 5 (Distres pernapasan sedang )
  3. Skor >6     (Distres pernapasan berat  dan diperlukan analisis gas darah )
Untuk metode yang di pakai adalah :
  1. Distres pernapasan ringan menggunakan   O2  nasal / Head box
  2. Distres pernapasan sedang perlu Nasal CPAP 
  3. Distres pernapasan berat   perlu untuk dilakukan intubasi dan penggunaan ventilator 
       Nah dari penjelasan singkat ini, mungkin pembaca sudah mengetahui bagaimana cara menindaklanjuti keadaan hambatan nafas pada neonatus, pada kesempatan berikutnya, penulis akan berusaha menjelaskan alat - alat yang disebutkan di atas untuk lebih memperdalam ilmu kita. Sampai jumpa di artikel selanjutnya :)







Rabu, 16 Januari 2013

Tersedak? First Aid for Choking

Mungkin beberapa dari kita pernah mengalami peristiwa tersedak, mulai dari tersedak benda cair maupun padat dengan berbagai ukuran. Nah, jika teman kita tersedak benda yang besar, semisal bakso utuh setelah terkaget oleh sesuatu hal, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus bingung? Ataukah mencari orang lain yang belum tentu bisa membantu kita?

Itulah mengapa kali ini kita akan bahas sedikit tentang bagaimana menangani kasus seperti di atas baik pada orang dewasa maupun bayi. Tersedak sendiri dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:

  •  Memakan makanan yang terlalu besar dan tidak dikunyah dengan baik
  • Makan sambil berbicara
  • Meminum alkohol sebelum makan
  • Memakai gigi palsu
  • Ceroboh pada anak anak
  • Makan sambil berjalan
  • Bermain – main dengan makanan
            Pada prinsipnya yang terganggu pada kasus tersedak adalah jalan nafas atau airway. Jika jalan nafas tidak dibebaskan dengan metode tertentu, penderita akan mengalami kesulitan dalam bernafas  yang pada akhirnya jatuh pada kondisi hipoksia hingga anoksia yang dapat mengancam jiwa jika dibiarkan terlalu lama. Di bawah ini kami akan berusaha menjelaskan bagaimana melakukan manuver Heimlich sebagai pertolongan awal pada kasus tersedak.

          Manuver Heimlich merupakan metode yang dapat digunakan untuk membersihkan objek yang menghalangi jalan napas pada orang dewasa sadar dan anak-anak usia 1 – 8 tahun. Prinsip utama manuver ini adalah mengangkat diafragma dan menciptakan dorongan udara dari paru-paru untuk mendorong objek yang menghalangi jalan napas atas untuk keluar.

  • A.    Untuk orang dengan usia lebih dari 8 tahun

tersedak_kepalan3

  1. Tanyakan, "Apakah Anda tersedak?" Orang tersebut mungkin menunjukkan tanda tersedak dengan hanya mengangguk saja. Jangan memberikan intervensi jika ia dapat berbicara, batuk, atau bernapas.
  2. Jika tidak dapat berbicara, batuk, bernapas, atau bahkan wajah (terutama bibir) tampak membiru, segera rangkul sekitar pinggang korban dari belakang. Buatlah kepalan tangan. Tempatkan di atas pusar, tetapi di bawah tulang rusuk. Pegang kepalan tangan Anda dengan tangan Anda yang lain. Perintahkan korban untuk sedikit menundukkan badanya dengan kedua kaki agak terbuka. Kemudian Tekan kepalan tangan Anda ke arah perut dengan gerakan yang cepat namun pasti, sebanyak 5 kali (abdominal trush), dengan arah belakang atas.
  3. Ulangi dorongan ke atas hingga objek dapat keluar atau korban menjadi tidak sadarkan diri. Jika objek berhasil keluar, korban harus menemui dokter sesegera mungkin. Link video pertolongan pada orang dewasa yang tersedak: Tersedak Pada Orang Dewasa
  4. Jika korban menjadi tidak sadar, mintalah bantuan! Hubungi 320118 untuk wilayah Malang! Miringkan kepala ke belakang dan angkat dagu untuk membuka (head tilt chin lift method) dan memeriksa jalan napas. {Catatan: Jika Anda menduga orang tersebut memiliki cedera kepala, leher, atau cedera tulang belakang, jangan memindahkan dan banyak memanipulasi posisi korban. Dan untuk membuka jalan nafas pada kasus ini harus dengan metode jaw trush dengan menarik rahang bawah ke depan.} Berikan 2 napas penyelamatan dengan pelan. Jika ini tidak membantu, miringkan kepala lebih jauh lagi (hanya jika tidak ada cedera kepala, leher, atau punggung cedera). Kemudian berikan 2 napas penyelamatan lagi. Jika orang tersebut tidak merespons atau bergerak, berikan 15 penekanan dada (chest compressions). Ulangi napas penyelamatan dan penekanan dada hingga obyek dapat terlihat. Setiap kali Anda  membuka saluran udara untuk memberikan napas penyelamatan, periksa mulut korban untuk melihat objek telah terlihat atau tidak dan mengeluarkannya jika Anda bisa dengan dengan jari telunjuk yang bersih (finger swab). Teruskan melakukan resusitasi jantung paru (CPR=Cardipulmonary Resuscitation) tersebut sesuai kebutuhan, sampai objek yang memblokir jalan napas dapat keluar atau sampai bantuan medis datang dan mengambil alih.

  5. Untuk langkah-langkah CPR pada dewasa yang lebih jelas, dapat dilihat di link video berikut: CPR Dewasa
  6. Walaupun objek dapat dikeluarkan dengan sukses, korban harus tetap menemui dokter sesegera mungkin.
B.     Untuk anak-anak usia 1 – 8 tahun
  1. Untuk anak sadar, berikan dorongan perut (abdominal thrusts) seperti untuk orang dewasa tetapi jangan terlalu kuat.
  2. Untuk anak tidak sadar, berikan pertolongan pertama untuk tersedak seperti pada orang dewasa yang tidak sadar.
C.    Untuk bayi usia ≤ 1 tahun
tersedak_baby

  1. Jangan melakukan intervensi jika bayi dapat batuk kuat, menangis, atau bernafas  lancar.
  2. Jika bayi sadar, posisi kepala bayi (menghadap bawah) di satu tangan. Baringkan bayi di atas lengan Anda. Letakkan lengan Anda pada kaki Anda untuk menstabilkan posisi. Pastikan kepala bayi lebih rendah dari bagian tubuh lainnya.
  3. Dengan tumit tangan lainnya, pukul bayi pada punggung di antara tulang scapula atau tulang belikat (back blows) 5 kali. Lakukan dengan cepat dan kuat. Ulangi prosedur ini 3 sampai 4 kali. Jika objek masih menghalangi jalan napas, lanjutkan ke langkah 4.
  4. Putar posisi bayi menghadap atas (wajah menghadap atas). Baringkan bayi di lengan Anda. Dukung kepala dengan satu tangan. Pastikan kepala bayi lebih rendah dari bagian tubuh lainnya. Letakkan tangan Anda pada kaki Anda untuk menstabilkan posisi. Tempat 2 jari 1/2 inci di bawah dan di antara puting dada bayi. Berikan 5 dorongan (chest thrusts) ke arah bawah dengan cepat. Tekanlah sternum 1/2 sampai 1 inci pada setiap dorongan.
  5. Ulangi langkah 3 dan 4 sampai objek keluar atau bayi menjadi tidak sadar.
  6. Jika bayi tidak sadar, mintalah pertolongan. Mintalah seseorang memanggil 320118! Jika tidak ada yang membantu memanggil 320118, berikan pertolongan pertama selama 1 menit, kemudian berhentilah untuk memanggil 320118, setelah menelpon bantuan lanjutkan upaya penyelamatan.
  7. Untuk mengecek apakah upaya kita berhasil, Letakkan bayi pada punggungnya. Miringkan kepala ke belakang dan mengangkat rahang (head tilt chin lift). Berikan 2 napas penyelamatan pelan-pelan. Jika ini tidak membantu, berikan 2 napas penyelamatan lagi. Berikan 5 pukulan punggung (back blows), kemudian 5 tekanan dada (chest thrusts). Jika objek tersebut dapat dikeluarkan, hentikan tindakan.
  8. Periksa dan keluarkan  objek di jalan napas jika terlihat. Ulangi langkah 7 dan 8 sesuai dengan kebutuhan.
  9. Jangan menyerah! Berikan pertolongan pertama sampai bantuan medis mengambil alih atau sampai objek dikeluarkan. Walaupun objek dapat dikeluarkan, segera antar bayi mendapatkan perawatan medis untuk mengetahui apakah ada efek samping dari tindakan yang kita lakukan.
  10. Untuk langkah-langkah pertolongan pertama pada bayi tersedak yang lebih jelas, dapat dilihat di link video berikut: Pertolongan Pada Bayi Tersedak

Demikian cara melakukan pertolongan pertama pada korban tersedak. Teruslah belajar dan berusaha. Aplikasikan pengetahuan dan ilmu untuk membantu sesama.

Sabtu, 12 Januari 2013

Gimana sih cara mengenal gangguan sistem pernafasan ???


check-for-breathing


Jika kita menemukan orang tergeletak tidak sadarkan diri di depan kita dan kita ingin memastikan apa orang tersebut masih bernafas atau tidak, kira –kira apa sih yang harus kita lakukan???

Jika pembaca belum tau, ayo coba kita belajar secara sederhana bagaimana caranya. Untuk mengenal gangguan pada system pernafasan kita dapat melakukan pemeriksaan dan penanganan sebagai berikut:

Pertama, Penolong mengetahui apakah penderita masih bernafas atau tidak (mendeirita henti nafas atau tidak). Tindakan yang dilakukan adalah LLF (look listen feel) yang hanya membutuhkan 5 detik atau dapat menggunakan stetoskop jika membawa dan sanggup melakukan interpretasi.
  • Lihat pergerakan dinding dada korban
  • Dengar suara nafas korban
  • Rasakan hembusan nafas korban
Kedua, Bila tidak bernafas segera lakukan pemeriksaan jalan nafas, apakah ada sumbatan atau tidak. Sumbatan jalan nafas biasanya disebabkan oleh
  • Pangkal lidah yang jatuh ke belakang dan menutup jalan nafas atau
  • Karena adanya benda asing (muntahan, darah, gigi dll) yang berada di dalam rongga mulut atau
  • Karena posisi kepala yang salah dan menyebabkan tetutupnya jalan nafas
Jika tiga hal tersebut terjadi maka, tindakan pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah membebaskan jalan nafas dengan menarik lidah keluar, mengeluarkan benda asing dalam rongga mulut (gunakan kedua jari tangan) dan menengadahkan kepala penderita (hanya jika tidak ditemukan cedera tulang leher)

Ketiga, Jika hal tersebut telah dilakukan dan penderita tetap dalam keadaan henti nafas, maka harus dilakukan pemberian pernafasan buatan.

Keempat, Bila korban bisa bernafas tapi tidak normal segera kirim ke dokter terdekat.
  1. Nafas cepat dan dalam : kemungkinan terjadi shock atau renjatan
  2. Bernafas dengan yang susah dan membutuhkan banyak tenaga (Megap - megap) : obstruksi jalan nafas, edema paru akibat penyakit jantung
  3. Penafasan ireguler : koma diabetikum, gangguan fungsi ginjal (uremia) atau kelainan fungsi syaraf pusat
  4. Cheyne Stokes (pernafasan yang dalam dan teratur tetapi diikuti dengan henti nafas (apnea) secara periodic : pada penderita cedera kepala erat
  5. Bunyi melengking (mengi/ wheezing) : asma
Dan terakhir, Jika korban bernafas normal, jagan berpuas hati, segera periksa kondisi bagian tubuh  lainya


- Tidak ada yang lebih baik dari seorang manusia yang bermanfaat -